Dan akhirnya… Dia pun Bangga

Akhir tahun 2015, akhirnya satu checklist gua dan janji gua ke bonyok terlunaskan..

Gelar M.T pun saya dapatkan, Magister Teknik, kalau kata dosen gua lebih tepatnya Makin Terperosok hahhaa… dan dengan kumpulan-kumpulan keajaiban pada saat gua ambil S2, puncaknya ternyata gua terpilih menjadi lulusan terbaik untuk jurusan gua. Kepastian gua mendapat predikat lulusan terbaik pun agak berliku-liku, sebab sebulan sebelum tanggal wisuda, gua dihubungi oleh panitia wisuda untuk mengumpulkan foto full body (udah kayak mau ikut audisi model aja ini) dan mereka juga menginfokan bahwa gua terpilih menjadi wisudawan terbaik

Pastinya kabar ini membuat gua gembira, dan gua langsung ngabarin bokap dan nyokap, yang disambut dengan gembira juga oleh mereka. Undangan untuk mengikuti wisuda pun datang dikirimkan dan sampai ke rumah dengan selamat, tetapi ada yang agak mengganjal, sebab di undangan tidak terlulis kursi VIP. Sesuai dengan tradisi di kampus gua, untuk para lulusan terbaik mendapatkan kursi di paling depan dan juga para orang tua wisudawan mendapat tempat di kursi VIP. Dan tidak datang juga kabar mengenai jadwal gladiresik acara wisuda.

Hari H untuk wisuda pun sampai, di pagi harinya gua sempet bilang ke Nyokap, “Ma, gak apa-apa ya kalau emang aku gak jadi wisuda terbaik?”

dan dengan senyumnya beliau membalas, “Gpp dek, mau terbaik atau tidak, kamu tetep terbaik ko buat mama”. Jawaban nyokap itu membuat gua terenyuh

Akhirnya gua , nyokap dan bokap sampai ke Gedung dan masuk ke registrasi untuk para tamu wisuda, dan benar saja nama gua ada di daftar wisuda terbaik, dengan otomatis bokap dan nyokap bisa duduk di kursi VIP. Usut punya usut ternyata dari pihak panitian tidak menginfokan ke gua mengenai untuk penukaran undangan menjadi VIP

Dengan keadaan ini, cukup membuat gua lega. Dari barisan depan gua dapat melihat kedua orang tua gua duduk dengan bangga. Dan sewaktu acara wisuda berjalan, setelah satu persatu lulusan terbaik maju untuk mendapatkan penghormatan dari pihak kampus, ada satu acara yang dimana para lulusan terbaik diberikan sepaket bunga dari pihak panitia. Bunga tersebut dianggap menjadi tanda terima kasih dari anak ke orang tuanya, giliran gua datang untuk memberikan bunga tersebut ke bokap dan nyokap

Dan peristiwa inilah yang menjadi salah satu moment yang akan gua ingat, saat gua memberikan bunga, nyokap dan gua berpelukan. Bagi gua pelukan dengan nyokap adalah hal yang biasa, karena memang gua dari kecil lebih dekat dengan nyokap. Tetapi pada saat gua berpelukan dengan bokap, gua sadar bokap yang selama ini gua anggap adalah orang yang tidak meledak-ledak, tetapi diam-diam dari jauh dia sebenarnya memiliki perhatian lebih dari gua. Pada moment ini gua melihat matanya berkaca-kaca dan dia juga membisikkan “Papa bangga sama kamu”. Gua gak bisa berkata apa-apa, gua hanya bisa membisu dan hanya bisa menebarkan senyum kepadanya. Sambil membalikkan badan, gak kerasa giliran mata gua yang berkaca-kaca, akhirnya gua bisa buat bokap gua bangga dengan anaknya yang dari dulu hanya bisa membuat dia kesal dengan seringnya perdebatan-perdebatan kecil diantara kami, dengan karakter kami yang sama-sama keras.

Kalau saja gua tidak membisu, mungkin ini yang akan gua katakan “Pa, sebenarnya aku tau kalo papa memang terlihat acuh kepadaku, tetapi dari sikap papa itu aku yakin sebenarnya papa selalu mengawasi perkembanganku secara diam-diam, tidak ingin mengganggu aku. Mulai saat ini aku akan belajar lebih banyak lagi dari papa, sehingga jika tiba saatnya nanti aku gak mau hubungan aku dengan papa yang bisa dibilang tidak akur akan terjadi dengan anakku kelak nantinya, Maafkan aku yang selama ini salah menilaimu”

-Dari Lelaki Yang Sedang Belajar Menjadi Dewasa-

 

 

 

Iklan

Setahun Tak Berjumpa

Hallooo

Wah gak kerasa udah setahun gak corat coret disini, hmmmm cukup lama juga ya. Setahun ke belakang ini banyak kejadian-kejadian yang belum dipost di blog ini  (duhh maaf blog, kamu jadi terbengkalai hehehee…)

Kalau di jabarin satu-satu kayaknya bakalan panjang banget, tapi gua coba untuk bagikan satu-persatu di post-post berikutnya ya, intinya akhirnya gua udah lulus s2 (satu checklist done), pertualangan gua ke jepang, hobi baru gua naik gung dan pastinya cerita tentang kisah-kisah unik cinta (cielaahhhhh)

Post ini bisa dibilang sebagai post pembuka untuk cerita-cerita gua setelah gak ngeblog selama satu tahun saja.. hahhaaa

Enjoy 🙂

Saat ilmu dipakai untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk jabatan tinggi

Pagi hari di aktivitas kerja, gua iseng membaca-baca berita di internet, ada satu berita yang menurut saya menarik, judulnya “Kisah Peter Yan, Sopir Taksi Lulusan Jerman yang ‘Nyambi’ Sebagai Dosen”

Bpk Peter Yan, ya benar dia adalah dosen, dia merupakan salah satu dosen favorit di angkatan gua, seingat saya dia mempunyai bidang khusus yaitu ngajar tentang Transportasi dan Perairan. Gua inget satu kalimat yang pernah ia bilang saat kami menanyakan kapan beliau akan mengeajar kami lagi, “Ayo kapan, saya bebas punya waktu untuk sekedar sharing tentang perkotaan, Ilmu itu harus dibagi kan? bukan untuk dipendam dalam diri kita?”

Gua pun masih ingat bagaimana dia “mengajarkan” orang-orang pemerintah dalam sebuah diskusi panel. Disitu terlihat sekali bagaimana orang-orang pemerintahan tersebut seperi diajarkan bagaimana perkotaan yang baik dalam menanggulangi kemacetan, sekali lagi beliau adalah pakar dalam bidang transportasi. Beliau pernah mengadakan penelitian tentang bagaimana seharusnya jalan dibangun di sekitar jalan fatmawati agar tidak terjadi macet, tetapi penelitian beliau dan teman-temannya ditolak atau tidak didengar oleh orang pemerintahan karena orang pemerintahan lebih mendengar nasihat-nasihat dari “developer swasta” yang punya maksud tertentu.

Mudah-mudahan dikemudian hari nanti banyak generasi muda yang seperti “Bpk Peter Yan”, yang tentunya ingin melihat Jakarta lebih baik lagi kedepannya, AMIN….

100209_peteryan

http://news.detik.com/read/2015/05/25/095902/2923741/10/kisah-peter-yan-sopir-taksi-lulusan-jerman-yang-nyambi-sebagai-dosen

Sumber : Detik.com

Dua Puluh Enam

23 Mei 1989, 26 Tahun lalu, cerita dari mama/ibu/nyokap jam 18.15, gua hadir di dunia (ceilaaahhhhh….)

Udah 26 Tahun, dan gua bersyukur masih diberikan keluarga yang lengkap, kesehatan dan masih punya tujuan yang gua kejar. Masih banyak kalo dibilang tujuan-tujuan yang gua kejar, yang terpenting tentu pendidikan dan karier. Terutama pendidikan, lagi seru-serunya kejar-kejaran ma deadline pengumpulan thesis, gua berharap sih semester ini bisa lulus dan jangan ngaret (masalahnya biayanya mahal nanti uang tabungan ludes,hehehe)

Kalo ngomongin karier, untuk masalah ini gua berharap bisa dapetin promosi jabatan (Aminnnnn), selain itu gua bisa dapetin banyak pelajaran dari orang-orang hebat di kantor ini, jujur gw masih belum apa-apa dibandingin mereka, pengetahuan-pengetahuan gua tentang dunia arsitektur, interior, teknis dilapangan sampe pertukangan, gua yang paling cetek, maklum dari jam terbang, gua masih yang paling minim, kalo di keluarga gua tuh anak paling bontot di departemen tempat kerja gua. Untungnya “kakak-kakak” di kantor ini sabar dan gak pelit buat ngajarin “adeknya” ini yang nyusahin, hehehehe…

Satu lagi yang gua minta di umur yang baru ini, kesehatan. Entah itu kesehatan gua untuk selalu prima ngadapin aktivitas “ibu Kota” yang gua bilang lama-kelamaan makin gak masuk akal dan menguras banyak banget stamina, maupun kesehatan untuk orang-orang yang gua sayang, karena di Tahun kemarin banyak cerita duka yang gua dapet..

Satu lagi yang mulai mengganggu, sebenarnya gua cuek menanggapi masalah ini, tapi…. orang-orang lain yang selalu menanyakan, yaitu “kapan nikah?????”, biasanya saat ditanya biasanya gua cuma bisa senyum-senyum aja, mungkin senyum itu bisa menjawab semuanya. Ya untuk masalah ini gua gak ngoyo gak kayak temen-temen gua yang mulai panik. Gua masih muda dan masih banyak yang harus gua kejar dulu, karena kalo sudah pas waktunya nanti, gua bawa anak orang buat gua ajak hidup bareng. Toh gua sadar bukan berasal dari keluarga yang “wah”, yang nantinya segala sesuatunya bisa tinggal minta, gua gak mau kayak gitu, semua harus dari hasil kerja gua sendiri

Ya mudah-mudahan, sama dengan doa dari keluarga, teman dan orang-orang terdekat. Semoga yang gua semogain, bukan hanya menjadi semoga (gua suka kata-kata ini), dan semoga gua semakin bertambah dewasa dalam berkata, bertindak, dan berpikir (maksudnya buka pikiran “dewasa” ya)

images

– Tambah tua itu wajar, tetapi menjadi dewasa itu sebuah pilihan –